lawrencecantorfineart – Meski tidak jelas siapa Mukidi yang sebenarnya, namun kisah Mukidi tersebar ke seluruh dunia. Ia mengatakan, Mukidi berasal dari Cilacap dan memiliki istri bernama Markonah. Dua orang anak, Mukirin yang sudah menginjak usia remaja, dan Mukiran yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Cerita Lucu Mukidi Saat Bertemu Teman Lama Yang Misterius

Ada banyak humor tentang Mukidi. Dari laporan Ceritamukidi, berikut ini cerita menarik tentang Mukidi yang mungkin belum pernah Anda dengar sebelumnya.

Bertemu Teman Lama Misterius

Seorang pria yang akrab tiba-tiba mengulurkan tangannya dan berjalan menuju Mukidi.

“Loh, kamu kan… aduuuuh sudah berapa tahun gak ketemu ya?”

“Mukidi.” Mukidi menjawab lalu menerima uluran tangan pria misterius tadi sambil berpikir keras.

“Ya… ya Mukidi… aduuuh masa lupa sih? Sungib… Sungib teman SMP, masih ingat Tasripin, Kamid, Wartam….”

Mukidi masih bingung tapi asal mengangguk gak apalah pikirnya, sambil mengingat-ingat nama-nama aneh itu.

“Wah, sudah hampir Maghrib nih, kita buka bersama yuk?” ajak teman barunya itu.

“Aku… eh sebetulnya mau buru-buru pulang..” Mukidi pura-pura menolak…

“Ayolah sekalian bernostalgia.” Mukidi yang lagi bokek ikut aja ke warung Padang, lagi pula sejak kasus daging sapi impor dia sudah tidak pernah makan dendeng balado.

Usai adzan dikumandangkan, mereka menikmati takjil gratis.Tidak peduli di mana pun, Mukidi tidak akan pernah lupa memesan jus durian. Dia lupa menanyakan identitas temannya lebih awal.

“Ayo Di, sikat saja…” Sungib juga tak kalah beringas mengambil lauk di hadapannya. Beberapa saat kemudian dia berhenti.

“Eh, ngomong-ngomong aku ke musala dulu ya, nanti gantian. Kamu terusin makan aja, habiskan jusmu.” Mukidi mengangguk.

Sungib yang rupanya ahli ibadah itu rupanya lama juga di musala. Sudah lebih 30 menit. Mukidi sudah khawatir kehabisan waktu Maghrib.

“Uda,” dia memanggil pelayan, “musalanya di sebelah mana?”

“Wah, gak ada mushola pak, adanya masjid 50m dari sini…”

“Teman saya tadi mana?”

“Teman yang mana pak?”

Membantu Seorang Nenek

Mukidi melihat mbah Kartinem sedang kebingungan di kantor pos.

“Bisa saya bantu, Nek?”

“Tolong pasangin perangko sama tulis alamatnya, Nak.”

“Ada lagi, Nek?”

“Bisa bantuin tulis isi suratnya sekalian?” Mukidi mengangguk. Si mbah lalu mendiktekan surat sampai selesai.

“Cukup, Nek?”

“Satu lagi, Nak. Tolong di bawah ditulis: maaf tulisan nenek jelek.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *